Kiprah para Isteri Alumni P3B Semarang di Solo yang tergabung dalam ”gerbong” HIAS (Himpunan Isteri Alumni Singosari) makin menggigit saja, terutama dalam hal sosial.
Lihat saja, hari Minggu 11 April lalu, lebih dari 250 warga Gondang Rejo Karanganyar Solo yang sebagian besar tergolong ”wong cilik” rame-rame mendatangi sebuah posko yang didirikan oleh wilayah Solo. Namun, kedatangan Mereka bukan untuk berdemo layaknya aktivis yang belakangan mengangkat isu hot soal Kasus Century, melainkan untuk menerima ”tali asih” dari HIAS Solo dalam bentuk layanan medis gratis atau pengobatan secara cuma-cuma.
Kepada Reporter KAP3B News, ”Jubir” HIAS Solo Ny. Sugeng (VII) mengatakan acara ini digelar dalam rangka Peringatan HUT HIAS Solo yang ke-4, dan sekaligus menyambut Peringatan Hari Kartini pada April ini.
Hal di atas, kata Ny. Sugeng yang biasa disapa juga dengan ”Bu Sugeng”, adalah sebagaimana komitmen awal saat dideklarasikan 4 tahun silam, yakni HIAS Solo ”mak brojol” dilahirkan akan lebih banyak ke missi sosial, baik untuk kalangan internal keluarga Alumni maupun masyarakat luar.
”Luar biasa”. Itulah pertama kali kata yang terucap dari Bu Sugeng saat Reporter KAP3B News meminta komentar tentang kegiatan pengobatan gratis tersebut. Karena lanjut Dia, dari perkiraan 200 warga yang mendapatkan ”kehomatan” untuk menerima jatah pengobatan gratis, ternyata malah diserbu lebih dari 250 orang. Warga begitu antusias dengan aksi sosial yang digelar para ”Kartini Alumni Singosari” di bulan April yang juga merupakan bulan Peringatan Hari Pahlawan Kartini, seorang sosok pejuang perempuan yang memperjuangkan para kaum ”Hawa” agar bisa berkiprah sebagaimana kaum ”Adam”.
”Tapi gak apa-apa. Yang penting kita puas karena semua bisa kita atasi dengan baik. Semua demi sosial, kita yakin dengan niat baik pasti Tuhan akan membalasnya dengan berlipat,” kata Bu Sugeng.
Ya, prinsip Bu Sugeng itu betul. Dalam Kitab SuciNYA (Al-Qur’an-red), tiap 1 kebajikan yang kita keluarkan, maka Tuhan akan melipatgandakan menjadi 100. Itulah kehebatan teori Tuhan,yang jauh berbeda dengan teori ekonomi manusia.
Menariknya dari kegiatan Bakti Sosial itu, semua Thethek Benge’-nya (operasional), mulai dari dari keuangan sampai tenaga, sebagian besar ditekel sendiri oleh HIAS Solo. Meski tergolong cukup luamayan besar tentunya, namun Bu Sugeng enggan merinci berapa dana yang dirogoh dari kocek kas HIAS, namun yang jelas ada juga sumbangan langsung dari beberapa Alumni Singosari. ”Yang penting kita bisa berbuat untuk sosial,” ujar Bu Sugeng, penuh diplomatis dan santun saat ditanya berapa besar dananya.
Memang kata Dia, kegiatan dapat berjalan lantaran mengoptimalkan potensi yang ada. Misal untuk Dokter, paling tidak dari Alumni katanya ada tenaga Dokter dan perawat, selain juga ada tenaga medis dari luar.
Bu Sugeng juga mengatakan, saat acara sosial itu digelar, banyak Alumni yang kebetulan lagi di darat turut hadir di sana. Karena saking ”sibuk ria” melayani Wong Cilik itu, maka Bu Sugeng tak tahu persis berapa ”Alumni Mbah Bejan” yang hadir di sana.
Saat ini, kata Bu Sugeng, HIAS Solo dipimpin oleh Ny. Mamik Budiono (VIII), sedangkan Dirinya tadinya mau istirahat dulu tapi tetap diminta untuk tetap dalam ”Gerbong HIAS Solo” sebagai Penasehat.
Selamat & Sukses 4th HIAS Solo. Tak ada salahnya kalau makna ataupun ”Ruh” daripada kiprah HIAS Solo ini kita jadikan magnet untuk dikembangkan oleh Alumni di wilayah lain.
**KAP3B News**
|