Sosok Ronny Gales Setiawan angkatan 10 tiba-tiba menghilang begitu saja sejak meninggalkan kampus Singosari. Di tengah gegap gempita angkatan 10 yang hendak mengadakan temu kangen puncak pada bulan 10, tanggal 10 tahun ’10 di Semarang, tiba-tiba terdengar kabar sayup-sayup tentang Ronny10.
Kontan saja, sejumlah Sedulur10 yang ada di Surabaya langsung melakukan “jelajah” untuk menemukan keberadaan Dia setelah ada info keluarganya berada di Surabaya dan terbesit kabar bahwa Ronny10 telah menghadap Sang Kholik pada tahun 1994 karena penyakit komplikasi.
Tak peduli bagaimana masa lalu Ronny 10, namun yang jelas didasari semangat paseduluran, akhirnya beberapa Sedulur10 di Surabaya seperti Agus Suhartono, Salepo dan Nur Helmi mendapatkan dukungan penuh dari Toto Sugianto10 selaku koordinator untuk menelusuri jejak keluarga Ronny10. Gayungpun bersambut, dalam waktu 1 minggu “Tim petualang10 Surabaya”, yang saat itu berhasil menemukan Nur Fadillah Isteri Ronny10 yang ternyata tinggal serumah dengan anak keduanya bernama Sisca Gales Setiawan di sebuah rumah yang sangat sederhana di daerah Sidoarjo yaitu Agus Suhartono10 beserta Istri dan anaknya.
Di rumah itu, Agus Suhartono10 beserta keluarganya disambut dengan rasa haru bahkan Nurfadillah yang dinikahi Ronny pada pertengahan Februari 1979 itu tak kuasa membendung butiran air matanya. Seakan Ia tak percaya di balik segala kekurangan dan kelebihan sang Suami di mata keluarga ternyata memiliki teman –teman yang peduli dengan hubungan silaturahmi. Kehadiran perwakilan ‘Tim Petualang10 Surabaya’ itu benar-benar mengejutkan Dia. “Semalem saya mimpi apa…,” demikian rintihan Nur Fasdillah saat menerima kunjungannya.
Dengan panjang lebar, Nur Fadillah mengisahkan perjalanan hidupnya, Tanpa bermaksud mengungkit masa lalu, Nur Fadillah mengaku biduk rumah tangganya dengan Ronny banyak diwarnai kerikil tajam. Begitu ditinggal Sang Suami Nur Fadillah dipaksa tuntutan untuk menjadi tulang punggung terhadap dua buah hatinya hasil perkawinan dengan Ronny10 (Almarhum) yang kala itu masih kecil. Malam hari Ia harus meninabobokkan sang buah hati dengan penuh kasih keibuan. Siang hari Ia harus mengambil peran sebagai “Ayah” yang harus membanting tulang demi kebutuhan ekonomi.
Apalah daya sebagai seorang wanita yang memiliki kemampuan biasa-biasa saja. Namun dengan bekal ketrampilan seadanya yakni sebagai penjahit terpaksa Ia jalani demi sesuap nasi anaknya yang saat itu masih kecil.
Bahkan, ketika usaha jahitan mengalami kelesuan, terpaksa wanita yang tampak keriput lantaran harus hidup dalam tekanan ekonomi itu sampai rela mengumpulkan barang bekas kemudian ditukar dengan beberapa lembar rupiah sekedar untuk terhentinya “tangis” anak-anaknya. Sesekali memang Ny. Ronny10 meratapi kehidupannya, Pahitnya kehidupan yang ia jalani tak pernah terkira sedikitpun sejak remaja. Namun Ia sadar dan tak menyerah begitu saja. Hidup ini adalah ibarat roda pedati. Kadang di atas dan kadang harus di bawah. Banyak jalan untuk menopang kehidupannya. Memang saat pahit-pahitnya kehidupan, setiap malam Nur Fadillah hanya berharap besok asap dapur harus tetap mengepul sebelum anak-anak cium tangan untuk pamitan ke sekolah. Soal bagaimana lusa, itu dipikirkan besok.
Seiring perjalanan waktu hingga kini, Nur Fadillah yang mestinya menikmati sisa usia senjanya bersama anak-cucu, kini tetap tegar untuk terus berusaha menghidupi dirinya tanpa harus menjadi beban anak-anaknya, meskipun kini harus tinggal serumah dengan anak keduanya itu yang kini juga sedang tidak mempunyai pekerjaan. Ny Ronny10 sampai kini masih harus menyambung hidupnya dengan berjualan Es kelapa muda di rumah tersebut.
Ketika perwakilan “Tim petualang10 Surabaya” bermaksud menanyakan kira-kira apa yang menjadi keinginan Ny. Ronny10 dalam menopang roda perekonomiannya, Ia sangat kaget. Karena Ia pikir ’Tamu’ ini hanya bertamu biasa sekedar silaturahmi. Dengan rasa haru Ia tidak berharap banyak di sisa kehidupannya itu, hanya kalau disuruh menjawab apa kebutuhannya, Ia mengatakan perlu modal usaha pakaian, untuk selanjutnya Ia akan menyusuri jalan-jalan dan gang serta lorong-lorong di wilayah sekitarnya untuk menjajakan pakaian tersebut.
Selanjutnya, setelah diadakan koordinasi dengan anggota ’Tim Petualang10 Surabaya’ dan Koordinator10 maka tepat jam 7 malam Rabu (31 Agustus) “Tim petualang10 Surabaya” (Nur Helmi, Agus Suhartono dan Salepo yang masing-masing bersama Istri) kembali ke rumah Ny. Ronny10 dengan menyerahkan bantuan dari Sedulur10 yang sesuai dengan keinginannya untuk modal usaha jual pakaian. Lagi-lagi begitu menerima sejumlah uang untuk modal usaha, Ny. Ronny10 tak kuasa menahan rasa harunya......Ia tak kuasa berkata-kata dan nampak berlinang airmatanya.
Sesekali Ia memuji kebesaran Tuhan. Juga berkali-kali Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya yang tak terhingga nilainya kepada “Tim Petualang10 Surabaya”. Nur Fadillah mengakui perjalanan hidupnya adalah pengalaman hidupnya yang patut dijadikan pelajaran yang berharga. Ia berjanji kalau selama ini ketika masih diberi kesempatan dan kekuatan pihaknya kurang peduli dengan masalah silaturahmi terutama dengan teman-teman, ke depan Ia akan berupaya untuk peduli dengan silaturahmi.
Selain dari bantuan modal tersebut, saat ini ’Tim Petualang10 Surabaya” juga sedang memberikan kesempatan kepada anak I-nya yaitu Happy Gales Setiawan (memegang ANT-V) untuk mengurus beberapa sertifikat yang sudah expire dan selanjutnya akan dibantu untuk segera dinaikkan kapal.
**KAP3B News/Kontributor 10 SBY**
|